Blue Abadi Fund – Yayasan Penyu Papua (YPP) sebagai mitra Blue Abadi Fund (BAF) terus melangkah nyata dalam upaya mitigasi ancaman terhadap kelestarian penyu hijau (Chelonia mydas) di Pulau Sayang dan Pulau Piai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Melalui patroli rutin (Foto 1), kegiatan monitoring penyu, serta peningkatan kapasitas masyarakat dan lembaga, program ini bertujuan agar pantai peneluran di kedua pulau tetap aman dari perburuan dan aktivitas manusia yang mengganggu proses alami peneluran penyu.

Foto 1. Tim YPP melakukan patroli di Pulau Piai, Februari 2025
Patroli dan Monitoring: Menjaga Garis Pantai Peneluran
Pada periode Februari 2025, Tim YPP telah melaksanakan 6 kali patroli lapangan di Pulau Sayang. Dari patroli tersebut ditemukan 8 aktivitas pelanggaran (Foto 2 dan Foto 3), terdiri dari satu kapal pemancing kecil dan tujuh kapal nelayan yang menangkap hiu dan ikan dasar di sekitar kawasan konservasi. Selain itu, tim menemukan bukti perburuan penyu di Pulau Piai berupa 6 karapas penyu, 2 bekas tempat panggangan, dan 1 bekas tenda pemburu.

Foto 2. Bekas karapas penyu hijau yang diburu di pulau Piai, Februari 2025

Foto 3. Tiang bekas tenda tempat tinggal/berteduh para pemburu penyu di Pulau Piai, Februari 2025.
Meskipun tantangan masih ada, semangat para anggota patroli tidak surut. Patroli intensif dilakukan untuk memastikan penyu dapat mendarat dan bertelur tanpa gangguan, sekaligus mencegah masuknya kapal tanpa izin di sekitar pulau-pulau kecil Raja Ampat.
Capaian Konservasi: 8.042 Tukik Kembali ke Laut
Hasil monitoring menunjukkan kabar menggembirakan. Pada Februari 2025 tercatat 118 sarang penyu di Pulau Sayang dan 138 sarang penyu di Pulau Piai. Tingkat keberhasilan penetasan mencapai 92,07%, dengan 90,82% tukik berhasil menuju laut, menghasilkan 8.042 tukik baru yang menandai harapan baru bagi kelestarian penyu di kawasan ini.
Namun, tim juga mencatat 23 sarang (16,7%) mengalami pemangsaan oleh biawak (Varanussp) (Foto 4), terutama akibat abrasi pantai dan lamanya musim ombak. YPP kini sedang menyiapkan strategi relokasi sarang terancam untuk mengurangi kerugian alami ini.

Foto 4. Biawak memangsa sarang penyu di Pulau Piai
Sinergi dengan Akademisi: Riset Bersama UNIPA
Untuk memperkuat dasar ilmiah kegiatan konservasi, YPP telah berkoordinasi dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua (UNIPA). Penelitian bersama dimulai pada April 2025 dengan fokus pada analisis habitat pantai peneluran dan dampak ekologis perburuan. Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi ilmiah bagi kebijakan konservasi penyu di Raja Ampat dan mendukung penyusunan zonasi perlindungan habitat penting di Pulau Piai dan Sayang.
Pendidikan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat
Selain kegiatan konservasi langsung, YPP melaksanakan Program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) bagi pelajar SD hingga SMA di Waigeo Barat, Waigeo Utara, dan Kepulauan Ayau (Foto 6). Kegiatan ini akan dimulai pertengahan 2025 dengan target menjangkau lebih dari 500 siswa. YPP juga dalam proses merancang Peraturan Kampung (Perkam) tentang pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di Kampung Selpele, yang akan memperkuat peran masyarakat dalam perlindungan penyu dan ekosistem laut.
Menatap Ke Depan
Langkah-langkah ini membuktikan komitmen YPP untuk menjaga populasi penyu hijau Raja Ampat. Meski tantangan seperti perburuan, abrasi pantai, dan tekanan aktivitas perikanan masih ada, kerja bersama antara masyarakat lokal, akademisi, pemerintah, dan mitra BAF menjadi kunci menjaga keberlanjutan ekosistem laut yang luar biasa ini.