Raja Ampat, Papua Barat Daya – Yayasan Molobin Raja Ampat (MORA) melaksanakan kegiatan penjangkauan ulang di Kampung Yenbeser pada Minggu (21/6) sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan Kelompok Perempuan Yenbeser dalam melaksanakan kegiatan sasi. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan pemahaman kelompok, dukungan masyarakat, serta kesiapan kampung dalam mengimplementasikan praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis adat tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa MORA kembali menjadi mitra penerima Hibah Siklus 6 Inovasi Blue Abadi Fund, di mana pada siklus baru ini, MORA akan fokus pada program Sasi Perempuan di Raja Ampat.
Sasi merupakan aturan adat yang mengatur larangan sementara terhadap pengambilan sumber daya alam, baik di darat maupun di laut, dalam kurun waktu tertentu. Praktik ini bertujuan memberikan kesempatan bagi sumber daya alam untuk pulih dan berkembang, sehingga dapat dimanfaatkan kembali secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Kehadiran tim MORA disambut hangat oleh Kepala Kampung Yenbeser, Arnolis Dimara, bersama anggota Kelompok Sasi Perempuan, termasuk Luisa Leasiwal dan Helena Mambraku. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan partisipatif, mencerminkan antusiasme masyarakat terhadap rencana pelaksanaan sasi yang akan dipimpin oleh kelompok perempuan kampung.
Selama kurang lebih tiga jam, diskusi difokuskan pada penguatan pemahaman mengenai konsep dan mekanisme pelaksanaan sasi, sekaligus membahas strategi pengembangan mata pencaharian alternatif bagi anggota kelompok perempuan selama masa penutupan area sasi. Dalam pertemuan tersebut, para peserta juga mengidentifikasi sejumlah jenis biota laut yang berpotensi menjadi objek sasi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Selain itu, kelompok perempuan mulai memetakan berbagai pilihan usaha dan aktivitas ekonomi alternatif yang dapat dikembangkan selama periode sasi berlangsung. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga sekaligus mendukung keberhasilan pelaksanaan sasi di tingkat kampung.
Kepala Kampung Yenbeser, Arnolis Dimara, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, pelaksanaan sasi oleh kelompok perempuan memiliki potensi besar untuk memperkuat peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Kami berharap program sasi ini dapat berjalan dengan baik dan mendapatkan dukungan penuh dari seluruh masyarakat Kampung Yenbeser. Selain menjaga sumber daya alam, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat peran perempuan dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan keluarga di kampung,” ujar Arnolis.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan sasi direncanakan dapat dimulai pada Agustus 2026 dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta agenda kampung yang cukup padat dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Molobin Raja Ampat, Beatrix Chyntika Rahawarin, menegaskan bahwa kegiatan penjangkauan ulang ini merupakan bagian dari upaya pendampingan untuk memastikan kelompok perempuan memiliki kapasitas dan kesiapan yang memadai dalam menjalankan sasi secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kami berharap proses pendampingan ini dapat memperkuat kepercayaan diri dan kapasitas kelompok perempuan dalam mengelola kegiatan sasi. Keberhasilan inisiatif ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara masyarakat, pemerintah kampung, dan kelompok perempuan agar dapat menjadi contoh praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat di Raja Ampat,” kata Beatrix. Melalui kegiatan ini, MORA bersama masyarakat Kampung Yenbeser berharap pelaksanaan sasi dapat menjadi salah satu upaya nyata dalam menjaga kelestarian sumber daya laut sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
