Blue Abadi Fund – Mitra Siklus 5 BAF menjalankan berbagai kegiatan peningkatan kapasitas dan penjangkauan yang diberikan kepada praktisi kawasan konservasi, pengguna sumber daya, pemangku kepentingan lainnya. Khusus untuk pendidikan lingkungan, Blue Abadi Fund menggunakan dua pendekatan, yaitu pendidikan formal melalui kurikulum muatan lokal di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan non-formal untuk menjangkau target penerima manfaat yang lebih luas.
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Konservasi Laut dan Pengelolaan Sumber Daya
Yayayan Bumi Papua Lestari (YBPL) telah memfasilitasi pelaksanaan Kelas Kelautan yang secara khusus diberikan kepada 20 Perempuan Adat di Kampung Yensawai Barat. Narasumber pada Kelas Kelautan ini, yaitu Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia (YKCI/KI, BLUD UPTD KKP Kepulauan Raja Ampat dan tokoh masyarakat adat yang sekaligus anggota GC dan Ketua Perwakilan Masyarakat Lokal//LRC BAF Ibu Frida Kelasin (Foto 1). Matari yang disampaikan,antara lain; Dasar-Dasar Pengelolaan Kawasan Konservasi, Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat, Kawasan Sasi dan Pengelolaanya, dan Peran Masyarakat Adat (khususnya Perempuan Adat) dalam Pengelolaan SDA yang Berkelanjutan.

Foto 1. Kelas Kelautan bagi Kelompok Perempuan Adat di Kampung Yensawai Barat, Selat Dampier.
Dalam upaya memperkuat partisipasi perempuan adat dalam pengelolaan sumber daya kelautan berbasis kearifan lokal, telah dibentuk Kelompok Perempuan Sasi Kampung Yenbeser. Inisiasi ini sebagai bentuk dukungan terhadap peran aktif perempuan dalam menjaga dan melestarikan praktik sasi laut sebagai sistem pengelolaan berbasis adat yang telah lama diterapkan di wilayah Raja Ampat (Foto 2). Dalam prosesnya, para perempuan diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, membentuk struktur organisasi, serta menetapkan visi dan rencana kerja awal.

Foto 2. Kelas Kelautan bagi Kelompok Perempuan Adat di Kampung Yenbeser, Raja Ampat
Pelatihan dan Sertifikasi Terumbu Karang, Ikan dan Ekologi Laut.
Pelatihan dan sertifikasi diberikan kepada 16 perempuan pesisir dari Kp Arborek, Kampung Yenbeser, dan Kampung Yenbekwan. Materi pelatihan yaitu; Ekologi laut dan pemantauan disampaikan oleh LPPM-UNIPA, Identifikasi ikan dan karang disampaikan oleh BLUD UPTD Raja Ampat dan Transplantasi karang dengan metode MARS disampaikan oleh MORA. Pelatihan ini telah memperkuat peran perempuan sebagai agen konservasi dan melahirkan “Women Manta Ranger” yang diharapkan menajdi motor penggerak baru konservasi laut di Raja Ampat (Foto 3).

Foto 3. Pelatihan dan Sertifikasi Terumbu Karang, Ikan dan Ekologi Laut Kelompok “Women Manta Ranger
Program pendidikan lingkungan di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) bertujuan untuk mempersiapkan generasi berikutnya sehingga dapat mengambil tanggung jawab penting dalam mengelola sumber daya alam. Pendidikan lingkungan ini dilaksanakan secara formal di sekolah-sekolah mulai tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, pendidikan lingkungan juga secara informal dilaksanakan di kampung-kampung yang berada di dalam atau di wilayah kawasan konservasi.
Pendidikan Lingkungan di Tingkat SD
Tim Edukasi dan Penjangkauan LPPM UNIPA secara aktif melaksanakan kegiatan mengajar di sekolah formal. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar di wilayah dampingan, serta menjembatani kebutuhan pembelajaran siswa yang belum sepenuhnya terpenuhi, salah satunya terkait pendidikan lingkungan hidup. Penddikan Lingkungan Hidup dilaksanakan di 3 Sekolah Dasar (SD), yaitu; SD YPK Lachai-Roy Saubeba, SD Negeri 1 Warmandi, SD Inpres 36 Wau, yang berada di Kampung Wau-Weyaf.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) diberikan kepada 97 siswa/i SD Kelas I – Kelas 6. Materi yang disampaikan berkaitan dengan upaya konservasi penyu di MPA Tambrauw (Foto 4).

Foto 4. Pendidikan Lingkungan Hidup bertema “Konservasi Penyu” di MPA Tambrauw .
Pendidikan Lingkungan di Tingkat SMP
Pendidikan Lingkungan Hidup di laksanakan di 3 Sekolah Menengah Pertama, yaitu: SMP Negeri 25 Raja Ampat Kampung Magei, SMP Negeri 4 Raja Ampat Kampung Fafanlap dan MTs Darussalam Raja Ampat Kampung Lilinta. PLH dalam periode Januari-Juni 2025 dilaksanakan sebanyak 24 kali yang diberikan kepada 161 siswa/siswi. Materi yang disampaikan terkait; Konservasi (Perlindungan), Ekosistem, Terumbu Karang, Biota Laut dan Ekologi Kelautan.
Pendidikan Lingkungan di Tingkat SMA
Pendidikan Lingkungan Hidup di laksanakan di 3 Sekolah Menengah Atas (Gambar 10), yaitu: SMA Negeri 4 Raja Ampat Kampung Lilinta, SMAS GUPPI Raja Ampat, Kampung Fafanlap dan SMA 1 Raja Ampat. PLH dalam periode Januari-Juni 2025 dilaksanakan sebanyak 24 kali yang diberikan kepada 161 siswa/siswi. Materi yang disampaikan terkait; Konservasi (Perlindungan), Ekosistem, Terumbu Karang, Biota Laut dan Ekologi Kelautan (Foto 5).

Foto 5. Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SMA 1 Raja Ampat.
Pendidikan lingkungan informal di BLKB menyasar anak-anak pra usia sekolah atau anak dan remaja yang putus sekolah dan tinggal diwilayah pesisir.
Pendidikan Lingkugan di Kampung Friwen
Tim Edukasi MORA memperkenalkan kepada anak-anak di Kampung Friwen tentang pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut dan rantai makanan dalam ekosistem laut. Pemberian pendidikan lingkungan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai peran penting setiap organisme dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut (Foto 6).

Foto 6. Pendidikan Lingkungan di Kp, Friwen, Kab, Raja Ampat.
Penjangkauan di Tingkat Masyarakat
Program penjangkauan konservasi di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) bertujuan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan kawasan konservasi. Dalam prakteknya, penjangkauan konservasi dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sosialiasi atau kegiatan informal, diantaranya dengan memanfaatkan event keagamaan.
Penjangkauan konservasi yang telah dilaksanakan, yaitu, Pembacaan Naskah Khotbah “Bahaya Sampah bagi Wilayah Pesisir dan Lingkungan Gereja” di 3 gereja (Gereja Paroki/Stasi Santa Monika, Gereja Paroki/ Stasi Santo Ambrosius Krooy dan Gereja Paroki/Stasi Santo Martinus), Kab. Kaimana. Pelaksanaan penjangakuan kawasan konservasi ini difasilitasi oleh Orang Muda Katolik (OMK) Santa Monika, salah satu organisasi kepemudaan gereja katolik di Kab. Kaimana (Foto 7).

Foto 7. Penjangkauan Konservasi Pada Perayaan Misa Gereja Paroki Santo Martinus, Kab. Kaimana.
Penjaringan Aspirasi Masyarakat Adat di tingkat Provinsi Papua Barat Daya
Penjaringan aspirasi masyarakat adat (Gambar 15) di tingkat Provinsi Papua Barat Daya dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Symposium dengan tema “Eksistensi Masyarakat Adat Di Pusaran Politik, Hukum Modern Dan Pemanfaatan Sumberdaya Alam Tanpa Prinsip Keberlanjutan”, pada tanggal 18 Februari d2025 di Sorong. Peserta Symposium sebanyak 153 orang, perwakilan Majelis Rakyat Papua (MRP), Lembaga Masyarakat Adat Papua Barat Daya, Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay, Forum Lintas Suku Asli Papua Barat Daya, Instansi Pemerintah Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (P2KP) Papua Barat Daya, Institusi Pemerintah, Institusi Pendidikan, NGO, Organisasi Keagamaan, Organisasi Kepemudaan dan para pihak lainnya (Foto 8).

Foto 8. Penjangkauan Konservasi Pada Perayaan Misa Gereja Paroki Santo Martinus, Kab. Kaimana.