Blue Abadi Fund – Seringkali, laporan konservasi hanya dipenuhi dengan angka luasan hektar atau jumlah spesies ikan. Namun, perkembangan terkini di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) menunjukkan pergeseran paradigma yang fundamental. Upaya pelestarian laut kini tidak lagi sekadar memagari laut dari aktivitas manusia, melainkan masuk ke dalam jantung kehidupan sosial, ekonomi, bahkan spiritual masyarakat pesisir.
Basis Data: Memahami Manusia Sebelum Mengatur Alam
Sebuah kebijakan konservasi akan runtuh jika tidak berpijak pada realitas perut dan dapur masyarakatnya. Inilah mengapa survei sosial ekonomi yang dilakukan di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Kofiau-Boo (31 Mei–3 Juli 2025) menjadi sangat strategis.
Melibatkan 286 Kepala Keluarga (KK) di delapan kampung (mulai dari Kampung Deer hingga Pulau Tikus), survei ini bukan sekadar sensus. Dengan melibatkan 24 surveyor dan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) serta survei gender, tim di lapangan sedang membangun peta navigasi sosial. (Foto 1)

Foto 1. Poster Kampanye “Bahaya Sampah Bagi Wilayah Pesisir Dan Lingkungan Gereja”
Konservasi yang buta gender dan buta ekonomi adalah kesia-siaan. Penggalian persepsi perempuan terhadap pengelolaan kawasan konservasi adalah langkah cerdas, mengingat perempuan pesisir seringkali menjadi aktor ekonomi yang tidak terlihat namun vital. Data yang kini diolah dalam KoboToolBox ini akan menjadi senjata ampuh untuk merancang kebijakan yang manusiawi, bukan sekadar aturan di atas kertas.
Gerakan Spiritual: Narasi “Manusia adalah Sampah yang Berakal Budi”
Salah satu terobosan paling menarik di BLKB adalah pelibatan institusi keagamaan sebagai garda depan perubahan perilaku. Di Kaimana, konservasi tidak lagi hanya dibicarakan di ruang seminar, tetapi bergema di mimbar gereja.
Kampanye yang dipimpin oleh Orang Muda Katolik (OMK) Santa Monika membawa pesan yang menohok dan jauh dari eufemisme: “Manusia adalah Sampah yang Berakal Budi”. Tema ini diangkat pada aksi pungut sampah Hari Air Sedunia (22 Maret 2025). Kalimat ini bukan sekadar jargon, melainkan kritik keras terhadap perilaku antroposentris yang merusak alam. (Foto 2).

Foto 2. Aksi Pungut Sampah di Pesisir Pantai Tanjung Simora, Kampung Trikora Kabupaten Kaimana.
Hasilnya nyata. Sebanyak 90 orang bergerak, dan 4,5 ton sampah (sekitar 170 kantong) berhasil diangkut dari Pesisir Pantai Tanjung Simora. Ini membuktikan bahwa ketika narasi konservasi dikawinkan dengan nilai moral dan spiritualitas, mobilisasi massa menjadi lebih efektif dan militan.
Pertobatan Ekologis: Lebih dari Sekadar Memungut Sampah
Puncak dari pendekatan non-konvensional ini adalah kegiatan “Camping Rohani” yang diikuti oleh 100 peserta OMK. Mengusung tema “Pertobatan Ekologis”, kegiatan ini menanamkan pemahaman bahwa merusak alam adalah sebuah dosa ekologis.
Ini adalah strategi jangka panjang yang brilian. Membangun infrastruktur fisik itu mudah, tetapi membangun “infrastruktur mental” generasi muda agar merasa berdosa saat membuang sampah ke laut adalah investasi yang tak ternilai. (Foto 3).

Foto 3. Aksi Pungut Sampah di Pesisir Pantai Tanjung Simora, Kampung Trikora, Kabupaten Kaimana.
Papua yang Sedang Bergerak Ke Arah yang Benar
Apa yang terjadi di Bentang Laut Kepala Burung memberikan pelajaran penting bagi dunia konservasi global. Bahwa untuk menjaga 5,2 juta hektar lautan, kita tidak bisa hanya mengandalkan polisi laut dan ilmuwan karang. Kita membutuhkan data sosial ekonomi yang valid untuk memahami kebutuhan warga, dan kita membutuhkan pendekatan spiritual untuk menyentuh hati nurani mereka.
4,5 ton sampah yang terangkat di Kaimana dan 286 KK yang disurvei di Kofiau-Boo adalah bukti: Konservasi di Papua sedang bergerak ke arah yang benar—memanusiakan manusia untuk menyelamatkan alam.