Yayasan SELARAS mengubah potensi kelapa menjadi nafas baru bagi ekonomi warga dan konservasi penyu di Papua Barat.
KAIMANA – Di ujung timur Indonesia, Pulau Venu bukan sekadar hamparan pasir putih. Bagi dunia konservasi, pulau di Kabupaten Kaimana ini adalah “rumah bersalin” vital bagi tiga spesies penyu yang terancam punah, salah satunya adalah Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang telah diklasifikasikan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) sebagai spesies yang sangat terancam punah (critically endangered). Namun, kelestarian habitat ini tidak bisa berdiri sendiri; ia sangat bergantung pada detak jantung masyarakat yang hidup di sekitarnya, khususnya di Kampung Adijaya.
Selama ini, masyarakat Adijaya hidup berdampingan dengan alam. Sebanyak 89% kepala keluarga menggantungkan hidup pada kelapa. Sayangnya, selama bertahun-tahun, “emas hijau” ini hanya berakhir sebagai kopra dengan nilai jual rendah. Sementara itu, masalah lain muncul atas keberadaan penyu yang saat ini berada dalam bayang-bayang ancaman ekologis.
Menyadari irisan krusial antara perut dan pelestarian alam, Yayasan Sealam Karya Lestari (SELARAS) yang dibantu oleh dana Hibah Blue Abadi Fund Inovasi Siklus 5 meluncurkan inisiatif berani pada awal 2025. Bertajuk “Sejahtera Masyarakatnya, Sejahtera Alamnya”, program yang berjalan dari Januari hingga Oktober 2025 ini membawa misi ganda: mengangkat ekonomi lewat kelapa, dan menyelamatkan penyu lewat edukasi.
Transformasi Emas Putih: Dari Kopra ke VCO
Perubahan di Adijaya dimulai dari dapur produksi. Melalui survei mendalam bersama Universitas Papua (UNIPA), ditemukan bahwa potensi kelapa di kampung ini luar biasa besar namun belum terasah. “Masyarakat punya bahannya, tapi belum punya kuncinya,” ungkap tim lapangan SELARAS. Kunci itu bernama Virgin Coconut Oil (VCO).
Lewat serangkaian pelatihan intensif, 33 warga yang tergabung dalam kelompok usaha kini telah bertransformasi. Mereka tak lagi hanya mengenal minyak kampung tradisional. Dalam lima kali pendampingan, tangan-tangan terampil warga Adijaya telah mampu membuat lebih dari 16 liter VCO murni berkualitas tinggi.
Bukan sekadar mengetahui cara pembuatannya, mereka kini memahami standar. Analisis kadar air dan asam lemak bebas telah dilakukan untuk menjamin mutu. Bahkan, sebuah lompatan besar dalam legalitas usaha telah tercapai: Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk kelompok usaha VCO Adi Jaya telah terbit sebagai dasar pengurusan izin-izin lanjutan. Ini menjadi tiket emas bagi produk lokal Kaimana untuk menembus pasar formal yang lebih luas.
Menjaga Penyu Lewat Hati dan Edukasi
Pilar ekonomi hanyalah separuh dari cerita sukses ini. Di sisi lain, SELARAS bergerak menyentuh kesadaran. Sebelumnya diketahui bahwa Perairan Kaimana, Papua Barat, adalah habitat penting bagi empat jenis penyu, yaitu penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu belimbing. Namun pertanyaan muncul, apakah masyarakat peduli pada penyu? Jawabannya mengejutkan: 87,5% warga menyatakan bersedia berpartisipasi aktif dalam konservasi. Angka ini berasal dari hasil survei yang dilakukan oleh tim SELARAS.
Merespon angka statistik ini, Yayasan SELARAS menerjemahkannya ke dalam berbagai program edukasi. Kegiatan nonton bareng film edukasi menjadi momen perekat sosial, mengumpulkan 139 warga dalam satu layar untuk merenungkan masa depan laut mereka.
Di sekolah-sekolah, 111 siswa diajak mengenal penyu bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai sahabat laut yang harus dijaga. “Anak-anak adalah penjaga Venu di masa depan,” menjadi mantra yang dipegang teguh.
Untuk memperkuat fondasi ini, hadirlah “Rumah Belajar”. Di sini, 71 anak Adijaya mendapatkan bimbingan membaca, menulis, berhitung (calistung), serta pendidikan lingkungan. Hasilnya menggembirakan, sepertiga dari mereka menunjukkan lonjakan kemampuan akademis yang signifikan. Ini adalah investasi jangka panjang agar generasi muda Adijaya memiliki kapasitas intelektual untuk mengelola alam mereka sendiri kelak.
Akuntabilitas dan Harapan Masa Depan
Kesuksesan program ini bukan hanya soal narasi, tapi juga tata kelola yang transparan. Dari total anggaran Rp 160 juta, penyerapan dana mencapai 99,3% (Rp 158.906.832) secara efektif dan tepat sasaran. Ini membuktikan bahwa setiap rupiah telah didedikasikan untuk pemberdayaan masyarakat dan alam.
Kini, fondasi telah terbangun. Kampung Adijaya telah belajar diversifikasi produk dari kelapa menjadi VCO, anak-anak yang lebih cerdas, dan masyarakat yang sadar konservasi. Langkah selanjutnya adalah memastikan pasar menyambut produk mereka dan semangat konservasi ini terus menyala. Di Adijaya, sebotol VCO kini bukan sekadar minyak. Ia adalah simbol harapan, bahwa ketika ekonomi masyarakat diperdayakan, alam akan turut dilestarikan.
