Cerita Yayasan Meos Papua Lestari sukses mengintegrasikan pendidikan kemaritiman ke dalam kurikulum muatan lokal di tiga sekolah dasar percontohan.

TELUK WONDAMA — Bagi anak-anak yang tumbuh di pesisir Teluk Wondama, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang bermain, sumber penghidupan, sekaligus penentu masa depan. Namun, memahami laut tidak cukup hanya dengan bisa berenang atau memancing. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran untuk menjaga kehidupan yang bergantung padanya.

Kesadaran inilah yang mendorong Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL), dengan dukungan pendanaan dari Blue Abadi Fund (BAF) Inovasi Siklus 5, untuk membawa isu kemaritiman masuk ke ruang-ruang kelas. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, YMPL menjalankan sebuah misi strategis, yakni mengintegrasikan Pendidikan Kemaritiman sebagai kurikulum muatan lokal (Mulok) di tingkat sekolah dasar.

Kurikulum yang Tumbuh dari Pesisir

Inisiatif ini berangkat dari keyakinan bahwa wilayah pesisir membutuhkan generasi yang memahami jati diri dan lingkungannya sejak dini. Setelah melalui proses koordinasi intensif dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Teluk Wondama di awal tahun, tiga sekolah ditetapkan sebagai pelopor: SD YPK Raisei, SD Negeri Wasior, dan SD Inpres Aisandami.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyusunan modul ajar Pendidikan Wawasan Kemaritiman (PPWK) yang terstruktur dan berkelanjutan. Modul untuk kelas 3, 4, dan 5 tidak hanya dicetak dan dibagikan, tetapi juga didaftarkan hak ciptanya ke Kementerian Hukum dan HAM pada Februari 2025. Langkah ini menjadi penanda keseriusan YMPL dalam menjaga kualitas, orisinalitas, dan keberlanjutan materi ajar ke depan.

Sebelum diterapkan kepada siswa, para guru terlebih dahulu dipersiapkan melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) pada April 2025. Sebanyak sepuluh guru dari sekolah percontohan dibekali pendekatan dan metode pembelajaran yang kontekstual. Respons para pendidik pun positif. Mereka menilai modul ini relevan dengan kondisi lokal, sembari menyarankan penambahan istilah biota laut dalam bahasa daerah agar semakin dekat dengan keseharian siswa.

Antusiasme Generasi Penjaga Laut

Dampak program terlihat nyata saat implementasi di kelas. Sebanyak 262 siswa dari tiga sekolah mengikuti enam kali pertemuan pembelajaran dengan antusiasme tinggi. Ruang kelas yang biasanya formal berubah menjadi ruang diskusi yang hidup dan partisipatif.

Siswa kelas 3 menunjukkan ketertarikan besar pada materi visual tentang ekosistem pesisir. Mereka mampu mengenali jenis ikan lokal serta membedakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Di tingkat kelas 4, pemahaman tentang konservasi mulai tumbuh melalui penjelasan sederhana yang mudah dicerna.

Sementara itu, siswa kelas 5 menampilkan daya kritis yang membanggakan. Dalam pembahasan tema “Bangsa Maritim dan Kekayaan Sumber Daya Laut”, mereka aktif membandingkan materi di buku dengan kondisi nyata lingkungan di sekitar mereka. Diskusi kelompok berlangsung dinamis dan kolaboratif sebuah suasana belajar yang jarang tercipta sebelumnya.

Menuju Bagian dari Kurikulum Resmi

Puncak capaian program ini adalah pengakuan secara institusional. Dinas Pendidikan bersama pihak sekolah sepakat menerima Rencana Implementasi Pendidikan Lingkungan Hidup yang diusung YMPL. Pada semester gasal 2025, modul Pendidikan Kemaritiman resmi digunakan sebagai materi muatan lokal, menggantikan topik “Bebas Malaria”.

Dengan dukungan pemerintah daerah termasuk persetujuan informal Bupati serta dokumen Kesepakatan Bersama (SKB) dengan pihak sekolah YMPL telah meletakkan fondasi penting bagi literasi lingkungan di Teluk Wondama.

Kini, anak-anak pesisir tidak lagi sekadar memandang laut sebagai latar kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai warisan berharga yang perlu dipahami, dicintai, dan dijaga keberlanjutannya sejak dini.