Manokwari, Papua Barat (24/11/2025) — Mitra-mitra Blue Abadi Fund (BAF) dari Papua Barat dan Papua Barat Daya berkumpul dalam Workshop Pembelajaran Mitra Hibah Siklus 5, sebuah forum yang secara rutin dilaksanakan setiap penutupan periode hibah BAF. Kegiatan ini diikuti oleh mitra kategori Primary (5 mitra) maupun Inovasi (10 mitra), dan menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman, capaian, tantangan lapangan, serta praktik terbaik yang muncul selama pelaksanaan program konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Workshop ini berlangsung pada 24 November 2025 di Aula Multimedia, Lantai 3, Kantor Gubernur Papua Barat.

Pelaksanaan workshop pembelajaran ini memiliki dasar yang kuat dan dapat divalidasi dari berbagai pendekatan dalam pengelolaan hibah lingkungan dan konservasi masyarakat berbasis lokal. Selain itu, untuk konteks Papua, pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengelolaan kolaboratif yang menempatkan masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai pengetahuan inti dalam perlindungan ekologi.

Workshop ini menyajikan lima sesi pembahasan utama yang mencerminkan ruang lingkup kerja para mitra di BLKB. Sesi pertama akan berfokus pada pengelolaan Kawasan Konservasi (KK) di perairan BLKB, termasuk pembahasan metode dan hasil monitoring sosial dan ekologi. Sesi kedua mengeksplorasi peran pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan komunitas, dan peningkatan kapasitas sebagai fondasi kesadaran publik. Sesi ketiga membahas konservasi spesies langka, terancam punah, dilindungi, serta ekosistem kritis yang menjadi penyangga kehidupan laut. Sesi keempat memperdalam peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi, termasuk nilai budaya, hak kelola, dan kearifan lokal. Sesi kelima mengulas keterkaitan antara pembangunan berkelanjutan, peningkatan mata pencaharian pesisir, dan keseimbangan ekologis di kawasan BLKB.

Melalui forum ini, para mitra memiliki kesempatan untuk mempresentasikan hasil dan pembelajaran dari lapangan, saling menguatkan jaringan kerja, serta merumuskan rekomendasi yang relevan untuk peningkatan efektivitas program di siklus berikutnya. Workshop ini juga menjadi elemen penting untuk memastikan bahwa dampak konservasi tidak hanya tercatat sebagai data pelaporan proyek, tetapi juga diterjemahkan menjadi peningkatan pengetahuan bersama, kapasitas lokal, dan kesinambungan pengelolaan jangka panjang wilayah laut BLKB.

Salah satu peserta workshop, Cory Patty dari Yayasan Orang Laut Papua, yang fokus pada kegiatan restorasi terumbu karang, menyampaikan pandangannya terkait pentingnya forum ini. Dalam komentarnya, perwakilan organisasi tersebut mengatakan: “Bagi kami, workshop pembelajaran seperti ini sangat penting karena memungkinkan para mitra untuk memahami tantangan dan keberhasilan satu sama lain. Restorasi terumbu karang bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi juga melibatkan masyarakat, adat, pengetahuan lokal, serta perubahan perilaku. Kami telah berhasil menanam lebih dari 12.000 fragmen terumbu karang di lebih dari 3.400 meter persegi wilayah pesisir di wilayah Raja Ampat. Dengan berbagi pengalaman di forum ini, kami dapat belajar metode yang lebih efektif, memperkuat jaringan, dan memastikan bahwa hasil kerja kami memberi dampak nyata bagi ekosistem dan komunitas pesisir. Kegiatan seperti ini mengingatkan kami bahwa konservasi di Papua bukan sekadar proyek, tetapi perjalanan bersama.” Ujar Cory Patty.

Dalam kesempatan yang sama, Gita Gemilang, Wakil Direktur Yayasan KEHATI selaku administrator Blue Abadi Fund, menegaskan bahwa workshop pembelajaran ini bukan hanya menjadi penutup siklus hibah, tetapi juga bagian penting dari proses peningkatan kualitas program dan tata kelola konservasi di Papua. Ia menyampaikan bahwa BAF dirancang sebagai model pendanaan jangka panjang yang memastikan keberlanjutan konservasi berbasis masyarakat. “Forum seperti ini sangat penting karena memungkinkan kita melihat secara langsung bagaimana program berjalan di lapangan, apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana pengetahuan lokal dapat terus menjadi pusat dari pengelolaan kawasan laut. Pembelajaran bersama ini membantu kita memastikan bahwa, setiap upaya, dan setiap kegiatan benar-benar memberikan dampak yang berarti bagi ekosistem dan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung,” ujar Gita.

Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, yang turut hadir dan membuka acara ini, memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Workshop Pembelajaran Mitra Hibah Siklus 5, Ia menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi Blue Abadi Fund dalam menjaga keberlanjutan lingkungan laut Papua sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat adat dan lokal. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya keberlanjutan skema pendanaan seperti BAF agar agenda konservasi tetap berjalan. “Wilayah laut kita adalah warisan yang sangat berharga, bukan hanya untuk Papua Barat, tetapi juga untuk Indonesia dan dunia. Kami berharap Blue Abadi Fund dapat terus berlanjut dan menjadi mitra strategis dalam menjaga kawasan konservasi dan mendukung masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya pesisir. Pemerintah daerah akan terus membuka ruang kolaborasi agar hasil dari program-program ini semakin kuat dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tutur Mohamad Lakotani.

Workshop Pembelajaran Mitra Hibah Siklus 5 ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali bahwa keberhasilan konservasi di Papua tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pendanaan, tetapi juga oleh pengetahuan kolektif, kolaborasi yang saling menguatkan, serta komitmen jangka panjang dari para pemangku kepentingan — mulai dari pemerintah daerah, mitra pelaksana, masyarakat adat, lembaga konservasi, hingga lembaga pendukung teknis. Dengan adanya ruang berbagi pembelajaran seperti ini, para mitra diharapkan semakin siap untuk menghadapi siklus hibah berikutnya dan memperkuat dampak konservasi di salah satu kawasan laut paling kaya keanekaragaman hayati di dunia.

[br]