Strategi terpadu masyarakat dan mitra menjaga terumbu karang Misool Selatan dari ancaman nyata
RAJA AMPAT – Misool Selatan bukan sekadar titik di peta. Bagi dunia, ini adalah jantung keanekaragaman hayati laut, rumah bagi terumbu karang terkaya di planet ini. Namun, bagi masyarakat Kampung Yellu, Dabatan, dan sekitarnya, laut ini adalah “lumbung hidup” yang kian rentan. Di tengah ancaman illegal fishing dan perubahan iklim, Yayasan Misool Ekosistem Regenerasi (YMER) melalui dukungan Blue Abadi Fund (BAF) Primary Siklus 5, membuktikan bahwa menjaga surga tidak bisa dilakukan dengan satu cara saja.
Sepanjang periode Desember 2024 hingga Agustus 2025, YMER telah menggelar operasi penyelamatan ekosistem yang masif melalui tiga pilar utama: Pengawasan Ketat, Restorasi Berbasis Sains, dan Edukasi Generasi Penerus.
Benteng Bernama Patroli dan Adat
Laut yang kaya adalah magnet bagi eksploitasi. Laporan YMER mencatat angka yang mengejutkan sekaligus melegakan: 840 perjalanan patroli telah dilakukan dalam sembilan bulan terakhir. Tim Jaga Laut yang tersebar di Pos Daram, Kalig, dan Yellit bekerja tanpa lelah, siang dan malam.
Hasilnya? Sebanyak 206 pelanggaran berhasil ditindak. Data ini mengungkap realitas keras di lapangan: 155 kasus penangkapan ikan ilegal di zona larang tangkap (No Take Zone), 47 pelanggaran di wilayah Sasi, dan 4 kasus destructive fishing. Tanpa kehadiran patroli rutin yang berkolaborasi dengan Polairud, TNI AL, dan PSDKP, kerusakan yang terjadi mungkin tak terbayangkan.
Namun, pengawasan fisik saja tidak cukup. YMER cerdas menggandeng kearifan lokal. Tradisi “Buka Sasi” pada akhir 2024 hingga awal 2025 menghasilkan 5.542 kg tangkapan ikan secara berkelanjutan. Ini membuktikan bahwa konservasi tidak mematikan ekonomi; sebaliknya, konservasi menjamin “tabungan” laut tetap berbunga untuk dipanen pada waktunya.
Harapan yang Tumbuh di Dasar Laut
Ketika pemutihan karang (bleaching) menjadi ancaman global, YMER memilih untuk tidak menyerah pada nasib. Program restorasi terumbu karang mereka bukan sekadar seremonial, melainkan berbasis data ilmiah yang ketat.
Di Pulau Kalig dan Yellit, lebih dari 6.900 fragmen karang (tepatnya 4.304 di Kalig dan 2.599 di Yellit) telah ditanam menggunakan metode Spider Web dan Coral Nursery. Yang menakjubkan adalah tingkat keberhasilannya: Survival Rate atau tingkat kehidupan karang transplan mencapai angka 91-97%.
Keberhasilan ini tidak lepas dari tangan dingin para pemuda lokal. Melalui On The Job Training, pemuda dari Kampung Yellu dan Dabatan kini bukan hanya nelayan, tetapi menjadi “dokter karang” yang paham teknik transplantasi hingga monitoring kesehatan karang. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan “hutan laut” mereka kembali rimbun.
Investasi pada Manusia
Mungkin capaian yang paling tidak terlihat namun paling berdampak jangka panjang adalah di ruang-ruang kelas. YMER sadar, penjaga laut masa depan adalah anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah.
Jangkauan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kini meluas drastis. Tidak hanya SMA, kini siswa SMP/MTs pun dilibatkan. Sebanyak 333 siswa (167 laki-laki dan 166 perempuan) di 5 sekolah kini memahami bahwa laut mereka istimewa. Mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi diajak field trip melihat langsung bagaimana karang direstorasi.
Tantangan yang Masih Ada
Tentu, jalan sunyi konservasi tidak mulus. Selain bekerja untuk restorasi terumbu karang, YMER juga ikut andil dalam konservasi penyu. Kematian seekor penyu hijau pada Februari 2025 akibat dugaan masalah pencernaan (kemungkinan sampah plastik) menjadi tamparan keras bahwa pekerjaan rumah masih banyak. Cuaca ekstrem dan angin selatan juga kerap memaksa tim patroli menepi, memberi celah bagi pelanggar.
Namun, dengan 1.267 tukik yang berhasil menetas dan dilepasliarkan kembali ke laut (tingkat keberhasilan 89%), harapan itu selalu ada.
Apa yang dilakukan YMER di Misool Selatan mengajarkan kita satu hal: Konservasi yang efektif adalah perpaduan antara ketegasan hukum, ketelatenan sains, dan ketulusan mendidik manusia. Jika ketiga hal ini terus dijaga, Misool akan tetap menjadi permata, bukan hanya untuk Papua, tapi untuk dunia.
