Ketika iman, aksi muda, dan kepedulian lingkungan bertemu di Kaimana
KAIMANA – Kaimana dikenal dengan senjanya yang indah, namun di balik pesona itu, ancaman sampah plastik di wilayah pesisir menjadi tantangan yang nyata. Seringkali, isu lingkungan hanya dipandang sebagai masalah teknis atau tanggung jawab pemerintah semata. Namun, apa yang dilakukan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Santa Monika Kaimana sepanjang tahun 2025 menawarkan perspektif baru yang segar: bahwa menjaga lingkungan adalah panggilan iman, sebuah “pertobatan ekologis”.
Melalui dukungan pendanaan Blue Abadi Fund (BAF) Inovasi Siklus 5, OMK Santa Monika tidak hanya berbicara tentang sampah, tetapi bergerak mengubah mentalitas umat dan masyarakat. Dari Januari hingga Oktober 2025, mereka membuktikan bahwa mimbar gereja dan aksi pungut sampah di pantai bisa berjalan beriringan untuk menciptakan perubahan sistemik.
Mimbar Gereja sebagai Corong Konservasi
Salah satu pendekatan paling unik dari program ini adalah integrasi pesan lingkungan ke dalam liturgi. Selama ini, khotbah mingguan mungkin lebih banyak berfokus pada kesalehan pribadi. Namun, OMK Santa Monika berhasil menjadikannya sarana edukasi massal.
Sebanyak 36 kali publikasi naskah khotbah bertema “Bahaya Sampah bagi Wilayah Pesisir dan Lingkungan Gereja” disebarluaskan. Para pastor di Paroki Santa Monika, Stasi Santo Ambrosius Krooy, dan Paroki Santo Martinus tidak hanya berbicara soal surga, tetapi juga mengajak umat untuk berhenti merusak “rumah bersama” ini. Pesan ini memperkuat pemahaman bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran moral terhadap ciptaan Tuhan.
Menggerakkan Orang Muda, Melintasi Batas Agama
Kekuatan utama program ini terletak pada energi kaum muda. Melalui kegiatan Camping Rohani yang diadakan saat masa Paskah dan Bulan Kitab Suci Nasional, ratusan pemuda tidak hanya diajak berdoa, tetapi juga diajak berkeringat memungut sampah dan membuat kerajinan dari barang bekas.
Lebih dari itu, OMK Santa Monika menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan mampu meruntuhkan sekat-sekat perbedaan. Aksi bersih pantai yang mereka inisiasi tidak dilakukan sendirian. Mereka menggandeng pemuda lintas agama, mulai dari Pemuda GKI, GPI, hingga Pemuda Masjid dan komunitas motor.
Hasilnya mencengangkan. Pada aksi Hari Air Sedunia (22 Maret 2025) saja, kolaborasi ini berhasil mengangkut sekitar 4,5 ton sampah dari Pesisir Pantai Tanjung Simora. Ini adalah bukti bahwa isu sampah adalah musuh bersama yang bisa menyatukan berbagai elemen masyarakat di Kaimana.
Data yang Berbicara: Perubahan Perilaku
Apakah kampanye ini berhasil mengubah perilaku? Data survei membuktikan, Ya. OMK Santa Monika melakukan survei pengetahuan, sikap, dan perilaku (KAP Survey) di awal dan akhir program. Hasil survei akhir menunjukkan lonjakan kesadaran yang signifikan. Di kalangan OMK sendiri, 92% responden kini telah menerapkan perilaku positif, seperti memilah sampah dan berani menegur orang yang membuang sampah sembarangan.
Di kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu paroki, pemahaman mengenai pemilahan sampah organik dan non-organik juga menunjukkan tren positif, meskipun masih ada tantangan dalam konsistensi perilaku sehari-hari. Media sosial juga dimanfaatkan secara efektif, di mana pengikut Facebook OMK Santa Monika melonjak dari 474 menjadi 1.800 orang, menandakan pesan kampanye mereka menjangkau audiens yang jauh lebih luas.
Menuju Kaimana Nol Sampah
Program ini telah berakhir secara administratif dengan serapan dana yang sangat efisien mencapai 98,46%. Namun, warisan yang ditinggalkan jauh lebih besar daripada angka-angka di laporan keuangan.
OMK Santa Monika telah menanamkan benih bahwa menjadi religius berarti juga menjadi ekologis. Mereka telah meletakkan dasar bagi gerakan Kaimana Nol Sampah yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi dibangun di atas kesadaran hati nurani.
Perjalanan masih panjang, tetapi dengan semangat “pertobatan ekologis” yang telah terbangun, masa depan pesisir Kaimana terlihat lebih bersih dan penuh harapan.
