Kolaborasi masyarakat Yenbekwan dan Yayasan Orang Laut Papua merawat terumbu karang sebagai respons nyata terhadap krisis iklim.
RAJA AMPAT – Raja Ampat sering kita agungkan sebagai surga terakhir di bumi, jantung dari Segitiga Karang Dunia. Namun, di balik jernihnya air biru yang sering menghiasi kartu pos, terdapat sebuah pertarungan sengit untuk bertahan hidup. Di Kampung Yenbekwan, Selat Dampier, Yayasan Orang Laut Papua (YOLP) bersama masyarakat setempat sedang membuktikan bahwa restorasi terumbu karang bukan sekadar aktivitas menanam seremonial, melainkan sebuah strategi pertahanan adaptif melawan krisis iklim yang nyata.
Program Yayasan Orang Laut Papua didukung oleh pendanaan Blue Abadi Fund (BAF) Inovasi Siklus 5 bisa membuka mata kita bahwa konservasi laut hari ini menghadapi tantangan ganda, tekanan aktivitas manusia dan kemarahan alam itu sendiri.
Ketika Laut “Demam” dan Strategi Bertahan
Tahun 2025 menjadi tahun ujian bagi perairan Raja Ampat. Fenomena “musim air kotor”—sebutan lokal untuk kondisi air hangat, keruh, dan penuh sedimen menghantam ekosistem. Suhu air rata-rata menyentuh 29-30 derajat Celcius, memicu pemutihan karang (bleaching) dan ledakan populasi alga serta sponge yang mencekik pertumbuhan karang muda.
Dalam situasi normal, menanam karang sebanyak-banyaknya adalah target utama. Namun, YOLP menunjukkan kematangan dalam manajemen konservasi. Alih-alih memaksakan penanaman massal di tengah kondisi air yang buruk yang berisiko kematian bibit, tim melakukan adaptasi strategi. Mereka beralih fokus pada pembersihan rutin (maintenance) dari predator seperti Drupella dan Bintang Laut Berduri (Crown of Thorns/COTs), serta membersihkan alga yang menutupi substrat. Sebanyak 127 ekor COTs dan 25 ekor Drupella berhasil dimusnahkan dalam operasi pembersihan ini.
Ketika penanaman tetap dilakukan, strategi diubah. Tim memilih spesies yang lebih kuat, yakni beberapa fragmen dan genus Porites dan Montipora, dan juga beberapa acropora serta menggunakan ukuran fragmen bibit yang lebih besar (10-15 cm) untuk meningkatkan daya tahan hidup. Hasilnya? Sebuah angka harapan, tingkat kelulushidupan (survival rate) karang transplan tercatat stabil di angka 85% meskipun di tengah tekanan lingkungan yang berat.
Data Berbicara: Lebih dari Sekadar Angka
Capaian kuantitatif program ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Hingga September 2025, YOLP telah berhasil merestorasi area seluas 3.473 m² di situs Rascal Garden, Makor Garden dan Insum di mana capaian ini melampaui target awal seluas 0,1 Ha (1.000 m²).
Hingga kuartal ketiga saja (hingga September 2025), di tengah tantangan cuaca dan kekurangan tenaga keja, sebanyak 9.840 fragmen yang berasal dari 42 jenis karang dari 23 family berhasil ditanam. Ini bukan pekerjaan mudah. Setiap fragmen diikat manual, setiap meter kawat dibentangkan di kedalaman 5-15 meter, dan setiap jengkal pertumbuhan dipantau secara berkala dan diinput kedalam logbook pada aplikasi “My Survei 123”.
Koneksi Darat dan Laut: Menuntaskan Akar Masalah
Hal menarik dari pendekatan YOLP adalah kesadaran bahwa ancaman bagi laut seringkali bermula dari darat. Survei mengindikasikan bahwa limbah septic tank dari pemukiman warga berpotensi mencemari perairan dan memicu peningkatan keberadaan COTs. Merespons hal ini, YOLP melakukan survei pemetaan sumber pencemar berbasis GIS di Kampung Yenbekwan dan Kurkapa.
Selain itu, tantangan perilaku manusia seperti nelayan yang tidak sengaja merusak bibit karang dengan kail pancing ditangani dengan pendekatan humanis. Edukasi dan teguran kekeluargaan dilakukan oleh sesama pemuda kampung, membangun kesadaran kolektif bahwa merusak karang berarti merusak “tabungan” masa depan mereka sendiri.
Transformasi Penjaga Laut
Keberhasilan terbesar program ini mungkin bukan terletak di dasar laut, melainkan di hati masyarakat Yenbekwan. Program ini telah mengubah paradigma pemuda lokal. Mereka yang dulunya mungkin hanya melihat laut sebagai tempat mencari ikan, kini bertransformasi menjadi “Coral Gardeners” bersertifikat. Kolaborasi dengan sektor pariwisata, seperti Liveaboard Rascal dan Soul Scuba, tidak hanya memberikan dukungan material tetapi juga menciptakan model ekonomi baru di mana kelestarian karang mendatangkan insentif ekonomi nyata bagi kampung. Kisah dari Yenbekwan ini mengajarkan kita satu hal penting: Restorasi ekosistem di era krisis iklim membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan data yang kuat, strategi yang adaptif, dan kolaborasi yang tulus antara masyarakat, ilmuwan, dan pelaku wisata. Karang di Raja Ampat mungkin sedang “demam”, namun semangat para penjaganya justru sedang membara.
