Sorong, 16 April 2026 — Blue Abadi Fund (BAF) kembali menyelenggarakan Rapat Governance Committee (GC) ke-19 yang berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi para anggota komite tata kelola, pemerintah daerah, dan mitra konservasi untuk memperkuat arah pengelolaan kawasan konservasi di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan pemberdayaan masyarakat di Tanah Papua.

Rapat GC ke-19 kali ini terasa istimewa dengan kehadiran langsung Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dan Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani yang secara resmi mengambil bagian sebagai anggota baru Governance Committee Blue Abadi Fund. Kehadiran kedua pimpinan daerah tersebut menjadi simbol kuat dukungan pemerintah provinsi terhadap keberlanjutan program-program konservasi laut dan penguatan masyarakat adat serta masyarakat pesisir di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Dalam pertemuan tersebut, Yayasan KEHATI selaku Administrator Blue Abadi Fund memaparkan perkembangan pengelolaan program konservasi di wilayah Bentang Laut Kepala Burung yang mencakup penguatan pengelolaan kawasan konservasi laut, perlindungan spesies prioritas, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan lingkungan hidup, serta peningkatan kapasitas organisasi masyarakat sipil lokal yang menjadi mitra pelaksana program di tingkat tapak.

Salah satu agenda utama dalam rapat ini adalah penetapan penerima hibah baru dalam Siklus Ke-6 Hibah Inovasi Blue Abadi Fund. Sebanyak 16 organisasi masyarakat sipil (OMS) dan yayasan lokal resmi terpilih sebagai penerima hibah baru, yang terdiri dari 10 organisasi di wilayah Papua Barat Daya dan 6 organisasi dari Papua Barat. Seluruh organisasi tersebut bergerak di berbagai isu strategis terkait konservasi laut, pengelolaan sumber daya pesisir, pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat adat, hingga penguatan ekonomi alternatif berbasis keberlanjutan di wilayah Bentang Laut Kepala Burung.

Direktur Program Yayasan KEHATI sekaligus perwakilan Administrator Blue Abadi Fund, Dr. Rony Megawanto, menyampaikan bahwa terpilihnya mitra-mitra baru ini merupakan langkah penting dalam memperluas dampak konservasi berbasis masyarakat di Papua.

“Blue Abadi Fund percaya bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat dipisahkan dari peran aktif masyarakat lokal dan organisasi-organisasi yang bekerja langsung di tingkat tapak. Melalui Siklus Hibah Ke-6 ini, kami ingin memperkuat kapasitas dan inisiatif lokal agar pengelolaan kawasan konservasi di Bentang Laut Kepala Burung semakin inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Rony Megawanto.

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap peran Blue Abadi Fund yang dinilai telah menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung keberlanjutan konservasi laut di wilayah Papua Barat Daya.

“Kami melihat Blue Abadi Fund bukan hanya sebagai mekanisme pendanaan konservasi, tetapi juga sebagai wadah kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi lokal, dan mitra internasional dalam menjaga masa depan laut Papua. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program konservasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan keberlanjutan sumber daya alam kita,” ungkap Elisa Kambu.

Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Konservasi harus berjalan berdampingan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kami berharap Blue Abadi Fund dapat terus memperkuat dukungan terhadap organisasi-organisasi lokal yang selama ini bekerja menjaga laut, mangrove, terumbu karang, dan sumber daya pesisir lainnya di Papua Barat. Pemerintah daerah akan terus menjadi bagian dari upaya bersama ini demi memastikan Bentang Laut Kepala Burung tetap lestari untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Selain membahas penguatan program hibah dan pengelolaan kawasan konservasi, rapat GC ke-19 juga menjadi ruang diskusi strategis terkait penguatan tata kelola pendanaan konservasi berkelanjutan, pengembangan kolaborasi multipihak, serta peningkatan efektivitas implementasi program di tingkat daerah.

Sejak diluncurkan pada tahun 2017, Blue Abadi Fund yang dikelola oleh Yayasan KEHATI bersama mitra internasional seperti Conservation International, The Nature Conservancy, dan WWF Indonesia telah menjadi model pendanaan konservasi laut berkelanjutan pertama di Indonesia. Melalui mekanisme dana abadi (endowment fund), BAF mendukung upaya perlindungan kawasan konservasi laut di Bentang Laut Kepala Burung yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.

Melalui pelaksanaan Governance Committee Meeting ke-19 ini, Blue Abadi Fund bersama seluruh mitra dan pemangku kepentingan kembali menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut Papua, memperkuat masyarakat adat dan pesisir, serta memastikan manfaat konservasi dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun masa depan.