Kebangkitan Bin Soren: Ketika Perempuan Adat Yensawai Barat Menjadi Garda Terdepan Penjaga Laut Raja Ampat

RAJA AMPAT – Di bawah langit biru Yensawai Barat, sebuah sejarah baru sedang ditulis di atas pasir putih dan di antara debur ombak Selat Dampier. Biasanya, urusan menjaga laut, menentukan batas wilayah tangkap, dan menegakkan hukum adat Sasi adalah ranah kaum bapak. Namun, tahun 2025 membawa angin perubahan yang sejuk namun tegas. Di kampung ini, para mama, pemudi, dan perempuan adat bangkit tidak hanya sebagai pengguna sumber daya alam, tetapi sebagai manajer dan penjaga kedaulatan laut mereka sendiri.

Inilah kisah tentang Bin Soren, yang dalam bahasa setempat berarti “Perempuan Laut”—sebuah kelompok perempuan adat yang lahir dari rahim inovasi dan kepedulian terhadap masa depan.

Inovasi di Tengah Tradisi

Raja Ampat dikenal dunia karena keanekaragaman hayatinya yang menakjubkan. Namun, menjaga surga ini membutuhkan lebih dari sekadar aturan pemerintah, ia membutuhkan detak jantung masyarakat lokal. Yayasan Bumi Papua Lestari (YBPL), sebagai salah satu penerima Hibah Inovasi Siklus 5 Blue Abadi Fund (BAF), melihat sebuah celah yang selama ini terabaikan, peran perempuan.

Selama ini, perempuan seringkali menjadi pihak yang paling terdampak jika hasil laut menurun, namun paling jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan konservasi. Melalui program “Penguatan dan Kelas Kelautan bagi Perempuan Adat”, YBPL mencoba membalikkan paradigma tersebut. Inovasinya bukan pada penciptaan teknologi canggih, melainkan pada rekayasa sosial: menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam tradisi Sasi.

Dari Kelas Kelautan Menuju Mandat Adat

Perjalanan Bin Soren tidak terjadi dalam semalam. Pada awal Maret 2025, 20 perempuan tangguh dari Yensawai Barat, Yensawai Timur, dan Dusun Marandan Weser berkumpul. Bukan untuk memasak atau mengurus rumah tangga, tetapi untuk belajar biologi laut.

Dalam “Kelas Kelautan”, mereka membedah siklus hidup teripang, lobster, dan lola. Mereka belajar mengapa Sasi, tradisi menutup area tangkap untuk sementara waktu—bukan hanya soal adat, tapi soal memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri.

“Kami jadi tahu bahwa menjaga laut itu bukan hanya tugas bapak-bapak. Kalau laut rusak, dapur kami yang pertama kali kosong,” ujar salah satu peserta. Semangat inilah yang melahirkan kelompok resmi bernama Bin Soren. Terdiri dari 17 perempuan asli Papua dan didukung anggota lainnya, kelompok ini mendapatkan legitimasi yang kuat, tidak hanya dari pemerintah kampung tetapi juga dari tokoh adat.

Sejarah di Swanyaur Ampu – Masi

Puncak dari transformasi ini terjadi pada 17 Mei 2025. Hari itu, Kampung Yensawai Barat kedatangan tamu istimewa, Bupati Raja Ampat, Oridek Burdam. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap inisiatif perempuan adat.

Di lokasi bernama Swanyaur Ampu – Masi, para perempuan Bin Soren memimpin deklarasi Sasi. Sepanjang 1 kilometer garis pantai kini berada di bawah perlindungan mereka. Tidak ada yang boleh mengambil lola, teripang, atau udang di sana sampai waktu yang ditentukan oleh para mama ini.

Ini adalah momen emosional dan monumental. Bupati Raja Ampat sendiri menyampaikan apresiasinya, mengakui bahwa langkah Bin Soren adalah bukti nyata bagaimana budaya dan konservasi bisa berjalan beriringan di tangan perempuan.

Lebih dari Sekadar Menjaga

Apa yang dilakukan Bin Soren melampaui sekadar melarang penangkapan ikan. Mereka membuktikan bahwa konservasi juga bisa berbuah manis bagi ekonomi keluarga. Selain menjaga laut, kelompok ini juga berinovasi membuat sampo ramah lingkungan dan kerajinan tangan, serta menanam 100 pohon mangrove untuk menahan abrasi yang menggerus pantai Yensawai Timur.

Mereka memahami bahwa menjaga alam adalah investasi. Ketika Sasi dibuka nanti, hasil panen yang melimpah akan menjadi bukti bahwa kesabaran dan kearifan mereka membuahkan hasil.

Menatap Masa Depan

Tentu, jalan di depan tidak selalu mulus. Tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan perlunya dukungan pendanaan berkelanjutan masih membayangi. Namun, YBPL dan BAF telah meletakkan batu pertama yang kokoh.

Program ini mengajarkan kita bahwa inovasi konservasi tidak selalu harus rumit. Terkadang, inovasi itu sederhana: memberikan kepercayaan kepada mereka yang selama ini suaranya sayup-sayup terdengar. Di Yensawai Barat, suara itu kini lantang bergema, dijaga oleh para Bin Soren, perempuan-perempuan laut yang memastikan bahwa kekayaan alam Raja Ampat akan tetap lestari untuk generasi mendatang.

Di tangan perempuan, laut tidak hanya dijaga, tapi juga dirawat dengan hati.