Pemberdayaan perempuan penyelam sebagai motor konservasi dan ekonomi berkelanjutan Raja Ampat

RAJA AMPAT – Di balik kemasyhuran Raja Ampat sebagai surga bawah laut dunia, terdapat sebuah gerakan sunyi namun bertenaga yang dimotori oleh kaum ibu dan perempuan muda. Selama ini, konservasi laut dan pengelolaan sumber daya alam seringkali dianggap sebagai ranah maskulin. Namun, Perhimpunan Penyelam Perempuan Molobin Raja Ampat (MORA) membuktikan sebaliknya.

Melalui dukungan pendanaan Blue Abadi Fund (BAF), Inovasi Siklus 5, pada periode Januari hingga Oktober 2025, MORA telah mengubah paradigma perempuan pesisir di Kampung Friwen, Yenbeser, dan sekitarnya. Mereka tidak lagi sekadar penonton di tepian pantai, melainkan aktor utama yang memutar roda ekonomi hijau dan menjaga benteng pertahanan ekosistem laut.

Dari Dapur ke Pasar: Revolusi Minyak Kelapa

Di Kampung Friwen, transformasi ekonomi dimulai dari hal yang paling dekat dengan keseharian: kelapa. Kelompok perempuan “Bin Friwen” yang sebelumnya hanya mengolah kelapa secara tradisional, kini telah naik kelas. Melalui pendampingan intensif, mereka berhasil memproduksi 25.000 ml sabun cair organik berkualitas tinggi.

Ini bukan sekadar hobi. Dengan omzet mencapai Rp 10.000.000 dari penjualan 100 botol, produk mereka telah menembus pasar pariwisata, mulai dari resort di Waiwo hingga Taman Wisata Alam Sorong. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dengan manajemen keuangan yang tepat, mulai dari pencatatan kas hingga penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) perempuan adat mampu mandiri secara finansial tanpa mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Women Manta Ranger: Penjaga Laut Berbasis Sains

Namun, MORA tidak berhenti di darat. Di bawah permukaan laut, lahir para srikandi baru yang disebut “Women Manta Ranger”. Sebanyak 16 perempuan dari Kampung Arborek, Yenbeser, dan Yenbekwan telah bersertifikasi untuk melakukan tugas yang selama ini didominasi laki-laki.

Berbekal pelatihan metode MARS (Mars Assisted Reef Restoration System) dan identifikasi biologi laut, 100% peserta kini mampu mengenali jenis karang, ikan, hingga melakukan transplantasi karang secara mandiri. Kehadiran mereka mematahkan stigma bahwa perempuan tidak memiliki kapasitas teknis dalam rehabilitasi ekosistem. Mereka adalah bukti bahwa konservasi yang inklusif menghasilkan dampak yang lebih luas.

Merebut Ruang di Wilayah Sasi

Salah satu terobosan paling kultural yang dilakukan MORA adalah intervensi dalam tradisi “Sasi” sistem buka-tutup wilayah laut adat. Di Kampung Yenbeser, perempuan selama ini memahami aturan Sasi namun kerap absen dalam pengambilan keputusan.

Melalui “Kelas Kelautan”, MORA berhasil memfasilitasi terbentuknya Kelompok Perempuan Sasi Kampung Yenbeser. Ini adalah langkah bersejarah untuk memberikan ruang suara bagi perempuan dalam tata kelola adat, memastikan bahwa perspektif mereka tentang keberlanjutan sumber daya laut didengar dan diakomodasi.

Investasi Masa Depan

Keberhasilan program ini juga tercermin dari efisiensi pengelolaan dana yang mencapai serapan 99,11%, menandakan tingginya komitmen dan profesionalisme tim di lapangan. Namun, investasi terbesar MORA sesungguhnya ada pada 462 pelajar di 6 sekolah yang kini telah terpapar pendidikan lingkungan hidup. Merekalah yang kelak akan melanjutkan tongkat estafet penjagaan surga Raja Ampat ini. Kisah MORA adalah pengingat bahwa konservasi yang berhasil tidak bisa berjalan dengan satu kaki. Ia membutuhkan sinergi antara ekonomi (sabun organik), sains (rehabilitasi karang), dan budaya (Sasi). Dan di pusat sinergi itu, berdirilah perempuan-perempuan Raja Ampat yang tangguh.