Blue Abadi Fund – Di tengah ancaman pemutihan karang dan kerusakan ekosistem laut global, sebuah harapan tumbuh di perairan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Namun, harapan ini tidak muncul dari angan-angan kosong, melainkan dari kerja keras, data yang presisi, dan pelibatan masyarakat yang nyata.
Laporan terbaru dari Tim Yaf Keru (Yayasan Orang Laut Papua/YOLP) bersama masyarakat lokal di Selat Dampier dan Misool memberikan pelajaran penting: restorasi terumbu karang bukan sekadar aktivitas seremonial penanaman, melainkan komitmen jangka panjang dalam perawatan dan pemantauan.
Angka yang Berbicara, Bukan Hiperbola
Seringkali, keberhasilan konservasi hanya diukur dari berapa banyak bibit yang diturunkan ke laut. Namun, data dari Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Selat Dampier menawarkan perspektif yang lebih mendalam. Bersama 5 warga Kampung Yembekwan, Tim Yaf Keru telah menanam 8.559 fragmen karang yang mencakup area seluas 2.435 m².
Yang menarik bukan hanya jumlahnya, melainkan keberagamannya. Sebanyak 30 spesies dari 13 famili (seperti Acropora, Montipora, hingga Pocillopora) ditanam. Ini menunjukkan upaya pemulihan ekosistem yang meniru kompleksitas alami, bukan sekadar membuat kebun karang monokultur. (Foto 1)

Foto 1. Proses Instalasi/Pemasangan Ram Harmonika oleh Tim Yaf Keru.
Hasilnya? Indikator biologis tidak bisa berbohong. Di area restorasi, ikan-ikan kecil mulai terlihat kembali. Suhu perairan yang stabil di angka 29-30°C mendukung pertumbuhan karang yang terpantau mencapai 1-2 cm pada periode April–Juni 2025. Ini adalah tanda vital bahwa ekosistem mulai pulih.
Kunci Keberhasilan: Disiplin Perawatan
Banyak proyek restorasi gagal karena “ditanam lalu ditinggalkan”. Apa yang dilakukan di Pulau Kalig dan Pulau Talaga (Misool) mematahkan tren buruk tersebut. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang mencapai angka impresif 85% (dari 3.668 fragmen yang dipantau di Pulau Kalig) adalah buah dari disiplin perawatan. (Foto 2)

Foto 2. Timelapse Perbandingan Hasil Monitoring Periode Triwulan Pertama (Juni-Maret 2025) & Triwulan Kedua (April-Juni 2025) di Titik 5 Rascal Garden Site.
Pada bulan Mei 2025, tim secara manual membersihkan parasit seperti alga, cyanobacteria, dan acidian yang menempel pada substrat buatan. Tanpa intervensi manusia ini, fragmen karang muda pasti akan kalah bersaing dan mati. Opini kami jelas: Restorasi tanpa perawatan adalah kesia-siaan. Keberhasilan 3.130 koloni yang kini tumbuh sehat adalah bukti bahwa intervensi rutin adalah harga mutlak bagi keberhasilan konservasi.
Teknologi dan Transparansi Data
Aspek lain yang patut diapresiasi adalah metodologi yang digunakan. YOLP tidak menebak-nebak. Penggunaan metode sampling point dengan stik besi di titik observasi, serta pendokumentasian melalui aplikasi “Survey 123” dan foto timelapse, menjadikan data ini akuntabel.
Transparansi kondisi karang—baik yang sehat, sakit, maupun mati—dipantau secara real-time. Ini memungkinkan evaluasi metode yang objektif, bukan sekadar klaim keberhasilan sepihak. (Foto 3).

Foto 3. Pembersihan Artificial Reef dari Parasit
Niat Baik Memulihkan Laut
Upaya pemulihan di Selat Dampier dan Misool mengajarkan kita bahwa memulihkan laut membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan tangan-tangan warga lokal (seperti dari Kampung Yembekwan dan Yellu) yang bersedia turun ke laut, membersihkan parasit, dan mencatat data.
Angka 85% tingkat kehidupan karang di Pulau Kalig adalah validasi bahwa metode yang dilakukan sudah berada di jalur yang benar. Ini adalah model pemulihan yang harus direplikasi: berbasis data, dikelola masyarakat, dan dirawat dengan ketekunan.