Manokwari, Papua Barat, (25/11/2025) – Blue Abadi Fund (BAF) resmi membuka Program Hibah Inovasi Siklus 6, sebuah skema pendanaan yang dirancang untuk memperkuat upaya konservasi sekaligus meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat adat serta masyarakat lokal di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), Papua Barat dan Papua Barat Daya. Informasi program ini disampaikan dalam acara sosialisasi yang berlangsung secara luring di Aula Multimedia, Lantai 3, Kantor Gubernur Papua Barat dan secara daring pada Selasa, 25 November 2025.

Sebagai dana perwalian konservasi, BAF hadir untuk memastikan ketersediaan pendanaan jangka panjang yang aman dan berkelanjutan bagi pengelolaan kawasan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Tujuan utamanya adalah menjaga ekosistem seluas 5,2 juta hektare dari tekanan kerusakan, sambil memastikan bahwa kawasan ini dikelola oleh para penjaga lingkungan setempat dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan wilayah tersebut.

Pada kegiatan ini, hadir langsung Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, SH. M.Si., yang juga sekaligus sebagai anggota Governance Committee BAF, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat, serta perwakilan dari Administrator BAF, Gita Gemilang, Komite Penasihat Sains dan Konservasi BAF, Meity Mongdong, serta lebih dari 90 peserta yang hadir baik secara daring maupun luring.

Dibuka langsung oleh Wagub Papua Barat, Mohamad Lakotani, menyatakan bahwa ini adalah kesempatan yang besar bagi semua organisasi yang ada di Papua Barat untuk bisa mengembangkan programnya dengan dukungan dana hibah dari Blue Abadi Fund, “Kita tentu berharap melalui sosialisasi ini, antusiasme masyarakat terutama orang-orang dan organisasi atau komunitas yang punya semangat pada isu pelestarian lingkungan hidup bisa menjemput kesempatan dana hibah dari BAF ini. Kita semua berharap di masa yang akan datang, alam kita di Papua bisa tetap terjaga untuk anak cucu kita nanti. Melalui skema dukungan pendanaan BAF ini, setiap organisasi akan punya kesempatan lebih besar dalam mengembangkan program-program berkelanjutan pada lingkungan.” Pungkasnya.

Sesi sosialisasi pembukaan Program Hibah Siklus 6 Blue Abadi Fund berlangsung dengan lancar dan interaktif, ditandai dengan diskusi yang hidup antara para peserta dan pemateri. Selama kegiatan, peserta aktif mengajukan pertanyaan, menyampaikan pengalaman lapangan, serta berdiskusi mengenai peluang dan tantangan dalam pengajuan proposal. Respons yang diberikan oleh tim BAF bersifat komprehensif dan membangun, sehingga menciptakan suasana dialog dua arah yang produktif dan memperkaya pemahaman peserta terhadap proses seleksi, kriteria pendanaan, dan prioritas program. Interaksi yang dinamis ini tidak hanya memperjelas berbagai aspek teknis, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi dalam mendukung upaya konservasi di Bentang Laut Kepala Burung.

Salah satu peserta dari organisasi Dinamikan Alam Nusantara (DIANTARA), Rens Lewerisa, menyatakan bahwa peluang pendanaan hibah dari BAF ini diharapkan bisa menjangkau semua kalangan secara lebih luas dan tidak ada batasan untuk menjangkau jenis pendanaan baik itu Hibah Inovasi Kecil ataupun Hibah Inovasi Menengah, karena sudah banyak organisasi di Papua yang punya kapasitas dalam menjalankan program-program konservasi secara profesional dan terukur.

Program hibah ini terbuka bagi berbagai lembaga yang bekerja di BLKB, termasuk organisasi masyarakat sipil Papua, organisasi nirlaba, kelompok masyarakat, organisasi keagamaan, koperasi, dewan adat, serta lembaga penelitian universitas. Seluruh pengajuan proposal harus mengacu pada Rencana Strategis BAF 2023–2028, dengan periode pelaksanaan program mulai April 2026 hingga Maret 2027. Dua kategori pendanaan tersedia dalam siklus ini, yaitu Hibah Inovasi Skala Kecil dengan dukungan hingga Rp 155 juta per lembaga, dan Hibah Inovasi Skala Menengah dengan dukungan hingga Rp 250 juta per lembaga. Proposal disusun menggunakan Formulir Proposal BAF yang dapat diakses melalui tautan resmi, https://bit.ly/INOVASI-BAF-6.

Penggunaan dana Program Hibah BAF untuk mitra Inovasi akan diprioritaskan untuk implementasi Rencana Strategis BAF 2023-2028 sebagai berikut:

Strategi 1: Mendukung kelanjutan dan peningkatan pengelolaan hingga 5,2 juta hektar jaringan Kawasan Konservasi (KK) di perairan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB).

Strategi 2: Secara sosial, politik, dan ekonomi, mendukung dan belajar dari masyarakat adat dan lokal Papua penjaga lingkungan Bentang Laut Kepala Burung.

Strategi 3: Meningkatkan kapasitas dana abadi dan penyaluran hibah BAF guna meningkatkan peluang untuk konservasi, keberlanjutan, dan pengembangan masyarakat berbasis lokal.

Lembaga yang berminat mengajukan Proposal untuk Program Hibah Inovasi Siklus 6 BAF, dapat menghubungi nomor hp. +62 812 4795 6293 atau email ke hibah.baf@kehati.or.id untuk informasi lebih lanjut. Batas waktu penyerahan Proposal beserta dokumen yang disyaratkan adalah hari Rabu, 24 Desember 2025 melalui email ke hibah.baf@kehati.or.iddengan memberi subject/judul email: (1). “Proposal Inovasi BAF 6 (Nama Lembaga/Inovasi Kecil)”, atau “Proposal Inovasi BAF 6 (Nama Lembaga/Inovasi Menengah)”, masing-masing lembaga hanya dibolehkan memilih salah satu dari dua model hibah yang disebutkan di atas. Semua proposal yang diajukan akan dinilai oleh Tim Penilai yang profesional. Penyerahan proposal setelah tenggat waktu di atas tidak akan diproses untuk penilaian.

David Kuntel, Team Leader Blue Abadi Fund, menyampaikan harapannya atas peluncuran Program Hibah Inovasi Siklus 6, “Bentang Laut Kepala Burung adalah salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di dunia. Melalui program hibah ini, kami berharap dapat memperkuat komitmen jangka panjang dalam menjaga kawasan konservasi secara kolaboratif bersama masyarakat adat dan lokal Papua. Mereka adalah penjaga sejati wilayah ini. Dengan mendukung inovasi lokal, kami ingin memastikan bahwa upaya konservasi tidak hanya melindungi ekosistem, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan dan kapasitas masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Masa depan BLKB akan semakin kuat bila dikelola oleh orang-orang yang paling memahami dan mencintai wilayah ini.” Jelasnya.